Tiga Anggota DPR Ziarahi Kuburan Massal Tragedi Shabra dan Shatila
Ketiganya juga menyempatkan diri berziarah ke lokasi kuburan massal tragedi Shabara dan Shatila di dua tempat berbeda. Kuburan pertama terletak di depan pintu masuk kamp. Di sini dimakamkan sekitar 3.500 korban. Dan lokasi kedua terletak di tengah pemukiman. Lokasi kedua tersebut sebelumnya adalah masjid. Namun karena keterbatasan lahan masjid tersebut kemudian diubah peruntukannya menjadi kuburan massal tanpa mengubah bentuk bangunan yang ada. Di lokasi ini sekitar 500 korban di makamkan.
Kunjungan ke kamp-kamp pengungsi Palestina merupakan bagian dari misi kemanusiaan KNRP guna mengetahui kondisi dan kebutuhan para pengungsi. Selain meninjau kamp Shabra dan Shatila, tim KNRP juga mengunjungi kamp pengungsi Burj Barajneh di Beirut, dan sejumlah kamp lainnya di Libanon.
”Di Libanon ini ada 12 kamp pengungsi Palestina yang tersebar dari Utara sampai ke Selatan. Karena jaraknya cukup jauh kita tidak mungkin mendatangi satu per satu. Namun dari beberapa kamp yang kami kunjungi kami sudah mendapat gambaran apa saja yang diperlukan di kamp pengungsian,” kata Suripto, anggota Komisi I DPR, yang juga pimpinan rombongan.
Setelah meninjau kamp pengungsi, Suripto memprihatinkan kondisi lingkungan kamp, yang mirip daerah kumuh di Jakarta. ”Mereka tinggal di gang-gang sempit dengan fasilitas sosial yang sangat minim. Fasilitas kesehatan dan pendidikan untuk pengungsi nampaknya kurang mendapat perhatian,” jelas dia.
Kamp tempat tinggal pengungsi, yang berbentuk rumah susun, kondisinya juga lusuh laiknya bangunan tak terawat. Menurut salah seorang pengungsi, nyaris semua bangunan kamp kondisinya seperti itu. Ini karena ada kebijakan dari pemerintah setempat yang melarang para pengungsi memperbaiki bangunan kamp. Alasannya bangunan tersebut milik pemerintah bukan milik pengungsi. ”Para pengungsi hanya boleh menempati, tidak boleh memperbaiki,” katanya.
Karena kebijakan itu, sejumlah bangunan kamp yang rusak berat oleh tembakan dan bom pada tragedi Shabra dan Shatila dibiarkan berdiri dalam kondisi berlubang di sana-sini. Pengungsi tidak boleh memperbaiki. Pemerintah pun enggan.
sumber : http://pk-sejahtera.org
0 Comments:
Post a Comment
<< Home